5 Jurus Jitu Untuk Kamu Apabila Berbelanja di India

5 Jurus Jitu Untuk Kamu Apabila Berbelanja di India

5 Jurus Jitu Untuk Kamu Apabila Berbelanja di India – Setiap kali melakukan perjalanan, kamu biasanya nggak ada niat khusus untuk membeli oleh-oleh. Selain karena anggarannya nggak ada, duh, paling itu paling males belanja, ngotot-ngototan sama pedagang,

Nah, di India yang apa-apa serba murah, eh pas jalan nemuin pernak-pernik lucu ya hasrat untuk beli muncul juga. Apalagi kalo ngeliat travelmates udah ngeborong, kamu nggak mau kalah dong pastinya.

Berikut pengalaman yang aku rasakan secara langsung ya! Dan bisa jadi akan sangat berbeda pengalaman masing-masing orang saat berbelanja di India.

  • Jangan Pernah Pegang Barang Dagangannya 

Masih ingat dong wejangan si Alam Khan, supir bajaj di Agra? Dia bilang, “jangan pernah beli barang dagangan di dalam, semua mahal dan palsu.” Nah nasehat itu kami turutin deh. Keagresifan pedagang di sepanjang jalan menuju Taj Mahal tidak kami gubris satupun.

Eh sialnya saat di Agra Fort, seseorang pedagang menawarkan dagangannya, Ahlan nggak sengaja kepegang snow ball aplikasi idn poker mobile (yang dalamnya berisi minatur Taj Mahal). Harganya sih ya nggak mahal-mahal banget, 50 rupee aja. Namun karena si Alam Khan sudah janji akan ngebawa ke pasar pusatnya oleh-oleh, ya kita nggak minatlah ya.

Saat Ahlan mau mengembalikan snow ball itu, si pedagangnya nggak mau. Lha wong si pedagangnya yang menyodorkan, khan eh kan? Eeh si pedagang jalanan (mereka nggak punya lapak, hanya membawa dagangannya dalam sebuah tas besar) keukeuh banget memaksa Ahlan buat beli dagangannya. Sampe-sampe tuh snow ball diletakkan di tanah, eh kita diikutin dong sampe jauuuuh banget. Udah ditolak baik-baik tapi tetep aja maksa.

  • Berani Galak

Saat datang ke Delhi Gate di kota Delhi, kami dikerubuti banyak sekali pedagang. Dari pedagang makanan, minuman, balon, pernak-pernik, pokoknya banyak deh. Delhi Gate juga rameeee banget. Kayaknya kawasan ini dijadikan masyarakat setempat buat ngumpul dan nongkrong sore hingga malam.

Ada beberapa anak yang berjualan gelang dengan kombinasi huruf. Jadi gelang itu dapat dituliskan nama kita. Berapa sih? 100 rupee cuy! Mahaaal buat ukuran India tentu. Nah anak-anak ini juga berjualan cat. Jadi anggota tubuh kita dapat dicat membentuk bendera (tentu saja bendera India hehe).

  • Tanya Harga Dengan Jelas

Namanya juga berbelanja di pasar tradisional ya, jarang ada toko atau lapak yang sudah memberikan label harga pada barang dagangannya. Nah, saat belanja di Varanasi, aku naksir sebuah gaun kecil dengan motif yang khas untuk keponakanku. Saat ditanya, si uncle memberikan harga 100 rupee. Okelah aku setuju dengan harga yang diberikan.

Begitu akan membayar, eh ternyata dimintain 150 rupee. Aku protes dong ya, secara udah disebut sebelumnya 100 rupee. Eh si uncle ini bilang nggak ngerasa nyebut harga 100 rupee. Kita ngotot-ngototan tuh.

“Percayalah itu gaun yang bagus dan harganya murah. Sebagai bonus akan saja tambahkan tali pengikat di roknya,” ujarnya.

Ya sudahlah, secara itu menjelang pulang ke Kolkata (sebelum terbang ke Kuala Lumpur), aku setuju saja. Gaunnya emang… bagus sih dan dengan harga 150 rupee pun sudah cukup murah. Lagipula, aku dan Indra belanja buanyak (pake banget) di toko itu. Dan item-item lain kita dapat potongan harga gila-gilaan.

“Kalian orang pertama yang datang ke toko kami, jadi kami berikan harga spesial,” begitu katanya hehehe. So, kalau belanja di India, pastiin deh harganya dengan jelas. Namanya juga belanja dalam jumlah banyak, bisa jadi si uncle pusing saking banyaknya barang yang kami tanyakan ya hehehe.

  • Pakai Jurus Pura-pura Pergi

Ahlan berencana membeli gaun sari untuk seseorang. “Untuk siapa sih?” auklah tanya aja sendiri hahaha. Nah mumpung kami lagi di Old Delhi, maka jalanlah kami ke pasar Chandni Chowk, pasar tradisional berusia ratusan tahun yang sering dijadiin lokasi syuting film itu memang terkenal dengan pusat penjualan sari-nya. Apalagi katanya di sana barangnya murah-murah.

Karena pasar ini besar sekali (kayaknya Chatuchak kalah deh), kami bertanya dulu ke beberapa orang di mana lokasi pusat penjualan sari. Setelah ketemu, ternyata lokasinya terdiri dari satu area khusus. Kami mulai mencari sari yang diinginkan. Dari awalnya bertanya ke lapak-lapak bagian luar, kami berjalan ke arah dalam dimana ratusan pedagang sari berada.

  • Menawar Dengan Kejam

Sekali lagi aku bilang, di India itu apa-apa murah. Jadi sebetulnya jika pedagang menawarkan dagangannya dengan harga tinggi, jika dikonversi ke rupiah tetap saja murah. Walau begitu, ya namanya aja kita berbelanja ya, kayaknya kalau nggak menawar itu bikin meriang hohoho.Dan memang begitu adanya. Harga yang ditawarkan biasanya sudah dinaikkan 2 kali lipat atau lebih. Tergantung barangnya sih. Kalau sari bisa 3 kali lipat terlebih jika tahu yang beli warga asing.

Aku yang sehari-hari malas belanja dan nggak doyan nawar harga ntah kenapa selama di India aku bisa dibilang jadi tokoh antagonis diantara Ahlan dan Indra hahaha. Jika ada pedagang yang menawarkan dagangannya, aku biasanya menawar dengan sangat kejam. Saat menaiki shikara (perahu tradisional) di Danau Dal di kota Srinagar, perahu yang kami tumpangi didatangi oleh perahu yang menjajakan aksesoris seperti bros, kalung, cincin dan anting.

Seperti biasa, karena Ahlan tajir melintir *kedip ke Ahlan*, Ahlan beli beberapa perhiasan imitasi-tapi-keren itu.Ternyata si uncle ini juga menjual cerutu berbentuk unik yang cocok buat dijadiin oleh-oleh. 1 lusinnya dihargai 200 rupee. Karena aku gak tertarik beli aksesoris (baca : nggak ada duit), jadilah aku pilih beli oleh-oleh yang murah meriah itu. Lumayan, bisa diberikan ke kakak ipar atau sepupu yang emang ngerokok. Tapi, sebagaimana prinsip pedagang di sana yang menaikan harga dengan tinggi, ya aku tawarlah.