Panama Terapkan Pembatasan Gender saat Belanja Karena Covid-19

Panama Terapkan Pembatasan Gender saat Belanja Karena Covid-19

Panama Terapkan Pembatasan Gender saat Belanja Karena Covid-19 – Republik Panama adalah sebuah negara yang terletak di tenggara Amerika Tengah, sebelah utara berbatasan dengan Laut Karibia, selatan berbatasan dengan Samudera Pasifik, timur dengan Kolombia dan barat dengan Kosta Rika. Statusnya sebagai negara transit sebagai awal menjadi titik pertemuan budaya dari seluruh dunia.

Pemerintah Panama memberlakukan kebijakan pembatasan baru demi mengatasi penularan COVID-19 di negaranya. Kali ini Panama akan memisahkan pelanggan yang hendak berbelanja di toko atau swalayan berdasarkan gender menjelang liburan Natal dan Tahun Baru.

Hal ini sama seperti Download Aplikasi Sbobet Terbaru negara Amerika Tengah dan beberapa negara Amerika Selatan lakukan untuk mengatasi masalah infeksi COVID-19. Namun penerapan ini juga menjadikan permasalahan baru terhadap komunitas transgender di Panama.

1. Memisahkan laki-laki dan perempuan di tempat umum

Panama akan memberlakukan kembali pembatasan laki-laki dan perempuan yang hendak berbelanja di hari yang berbeda. Pembatasan berdasarkan gender ini akan diberlakukan mulai Senin (21/12) untuk mencegah lonjakan kasus COVID-19 di negaranya.

Diberlakukannya kembali kebijakan ini lantaran menjelang liburan Natal dan Tahun Baru yang dikhawatirkan akan menaikkan angka infeksi baru. Sebelumnya Panama sudah memberlakukan pembatasan gender pada bulan April dan September lalu, dilansir dari RT.

Menteri Kesehatan Panama Luis Sucre mengatakan apabila, “Sejak Senin (21/12) kita akan memberlakukan pengurangan mobilitas pembelian berdasarkan gender”

Sementara itu, pada saat hari Natal dan Tahun Baru akan diberlakukan karantina total bagi seluruh gender di Panama.

2. Menyulut tingginya diskriminasi terhadap warga transgender

 

Akan tetapi pemberlakukan kebijakan pembatasan gender ini juga mendapat kritikan karena hanya melihat informasi seseorang sesuai dengan gender yang tertera dalam KTP. Hal ini menuai kritikan dari kalangan aktivis HAM dan LGBT di Panama menurut penelitian LSE yang menyatakan,

Pembatasan gender telah gagal untuk mengenali identitas gender yang luas dan mungkin akan meningkatkan ketimpangan dan ketidakadilan bagi individu non-binari dengan ketidaktahuan jangka panjang”

Di samping itu adanya pembatasan gender ini justru menyulut tingginya insiden diskriminasi terhadap warga transgender saat masa karantina, di mana terkadang mereka harus beradu dengan polisi yang berjaga. Tak jarang pula warga transgender di tolak oleh pihak supermarket dan bahkan di tahan karena perbedaan dalam kartu identitas dengan wujud fisiknya.

3. Terjadinya lonjakan kasus COVID-19 baru di Panama

Pemberlakukan pembatasan gender di negara dengan populasi 4,2 juta penduduk tersebut di mulai minggu ini. Yang memperbolehkan perempuan keluar dan berbelanja pada hari Senin, Rabu dan Jumat. Sedangkan laki-laki pada hari Selasa, Kamis dan Sabtu demi menakan angka kasus COVID-19. Yang melonjak tajam hingga mencapai 2.755 kasus baru dengan kematian 39 jiwa.

Hingga hari Minggu (20/12) COVID-19 di Panama mencapai angka 212.339 kasus dan sudah merenggut 3,566 korban jiwa. Selain itu, Panama mengalami lonjakan kasus yang mencapai lebih dari 100 persen sejak pertengahan November lalu.